" Hari ini terasa kosonk..ketika aku terbangun dr tidur di flat room aku yang tidak cukup besar..tapi cukuplah untuk aku dan echie (roomate ) yang juga sekaligus kakaku..pengganti mbak vonny yang lumayan agak jauh...hmmm..echie pulang hr ini kerumahnya dibilangan daerah depok juga..sama seh kita..biasanya echie yg selalu ingetin aku untuk do something before i go...beberapa jam kemudian setelah echie pergi..aku berasa hampa..waahhh bnr2 kosong nih hari..gumamku dalam hati..aku memang niat untuk pulang..tadinya aku ngajak echi agar bisa pulang brg sama ku..krn kbtulan aku dijemput sama supir...tp ternyata echie lbh memilih pulang lbh dulu dari aku....
hmm..aku jd terpikirkan..gimna kl hidup ga punya tmn yah..gilaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa..bisa gilaaaaaaaaaaa gw.....bener-bener berasa kosong nih hareee...
Sabtu, 20 September 2008
Jumat, 28 Maret 2008
Iam aN entrepReNeuR

…jika ada 1 juta orang pengusaha muda, maka satu di antara mereka adalah aku.…jika ada 1000 orang pengusaha muda, maka satu di antara mereka adalah aku.…jika ada 100 orang pengusaha muda, maka satu di antara mereka adalah aku.…jika ada 10 orang pengusaha muda, maka satu di antara mereka adalah aku.…dan jika hanya ada 1 orang pengusaha muda, maka itu adalah aku!!!
Jujur, saya pribadi–anak muda yang sedang belajar untuk menjadi pengusaha ini–dan barangkali ada beberapa dari sahabat-sahabat lainnya, belum merasakan atmosphere yang mendukung untuk tumbuh berkembang menjadi seorang pengusaha.
I think, ada baiknya kita belajar kepada kawan-kawan kita di Cina dan India. Di sana ada banyak anak-anak muda nerds (penggila teknologi) yang memiliki visi bisnis yang cemerlang. Dan ide mereka lahir menjadi bisnis real karena ada support para VC’s (Venture Capitalists), juga berpadu dengan regulasi pemerintah yang berpihak kepada para pengusaha muda tsb.
I think, ada baiknya kita belajar kepada kawan-kawan kita di Cina dan India. Di sana ada banyak anak-anak muda nerds (penggila teknologi) yang memiliki visi bisnis yang cemerlang. Dan ide mereka lahir menjadi bisnis real karena ada support para VC’s (Venture Capitalists), juga berpadu dengan regulasi pemerintah yang berpihak kepada para pengusaha muda tsb.
Indonesia memiliki banyak anak-anak muda brillian yang memiliki ide bisnis cemerlang, yang jika come to reality akan ada banyak lapangan pekerjaan baru tercipta. Mereka hanya perlu atmosphere dan dukungan untuk menjadikan idenya benar-benar terwujud.
Saya yakin negeri ini akan bisa melahirkan orang-orang sekaliber Bill Gates, Buffet, Steve Jobs, Michael Dell, Farrah Gray, Joff Bezos dll. Kasih kami kesempatan untuk memberi warna cerah bagi masa depan Indonesia tercinta.
Minggu, 03 Februari 2008
J.a.M.e.S. is Zakariyya
Tahun ini, James mengaku tak lagi merayakan Natalan. Ia tak ikut berkumpul dengan keluarganya menyantap kalkun dan alkohol. Tapi ia bahagia! .... James mengakui bahwa perjalanan menuju Islam cukup lama baginya, 'sepuluh tahun' sejak ia berkenalan dengan teman-teman Muslim di tempat kerjanya. Ia tak paham dan agak menyesali kenapa harus begitu lama ?
Suatu petang James datang ke tempat ku memenuhi janjinya untuk memasang scanner dan printer. Ia datang usai bekerja. Ditemani teh hangat ala Inggris, saya bertanya pada sahabat muallaf yang begitu baik menolongku untuk membersihkan komputer dari virus sekaligus membenahi file di komputerku.“Bagaimana perasaan kamu pada bulan Desember ini? Apakah suasana Natalan tahun ini masih ada pengaruh pada dirimu? tanya saya padanya. “Well I am happy because I can get away this time, completely”, ujarnya ceria. Inilah saat paling bahagia bagi James. “Tanpa perayaan, tidak ada tekanan untuk membeli makanan, maupun alkohol, aku sebenarnya merasa bebas dan ini pertama kali yang pernah saya rasakan. Saya sudah tak akan merayakan Christmas (Natalan) lagi.”James membuka lagi kenangan masa lalunya. Ia bercerita bahwa tahun lalu, walau ia sudah segan dan wegah merayakan Natalan, namun karena dalam kondisi fikiran masih kacau --antara menghormati orangtua nya dan keraguan terhadap agamanya-- ia masih ingin melakukan kebiasan dan tradisi keluarganya, merayakan Natalan. Sebagaimana diketahui, hampir setiap keluarga di Inggris, menurutnya, mempercayai bahwa ini bukan perayaaan keagamaan tapi melulu acara tradisi budaya Eropa yang sudah dilakukan ratusan tahun. “Sudah tradisi!”, begitu istilahnya. Mereka berkumpul sekali dalam setahun. Rata-rata keluarga Inggris berkumpul dan menghidangkan masakan ayam kalkun yang di panggang dalam oven lengkap dengan sayur mayur dan ditutup dengan puding krismas yang begitu berat, plus ditambah makanan lainnya dan tak lupa ditemani alkohol. Puncak dari acara ini, tentunya, membagikan hadiah bagi keluarga.Namun belakangan banyak diakui, kalau acara seperti ini adalah ‘tradisi Pagan’ guna memuja “Dewa Matahari”, dengan cara merayakan malam terpanjang.Tahun ini, si James tak akan menghadiri perayaan ini. Bertepatan dengan perayaan ulang tahun ibundanya ke 70, ia menjelaskan asalan mengapa kali ini dirinya tak akan menghadiri lagi perayaan ini.“'So don't worry about chrismast pudding and Turkey Mum I just would not join the christmast this time”, ' ujarnya. “..alhamdulillah mereka paham dan menghargai keputusan saya”, tegasnya.Sebetulnya banyak yang membujuk James untuk datang dan berkumpul dengan adik dan kakak serta para keponakannya. “Tapi, ibu saya kan tidak akan bisa dan tak paham memasak daging atau ayam halal, lagian walaupun ini bukan acara ritual atau relijius, kalau saya hadir berarti saya merestui perayaan ‘pagan’ mereka”, ujar James. Belum lagi nanti pada acara minum alcohol. “Mereka akan menonton dan mentertawakanku jika tidak minum”, ujarnya.“Well, masya Allah, mereka menyambut baik dan menghargai keputusanku dan bahkan cukup supportif, dan mereka tahu sekarang saya Muslim dan saya tunjukan sajadah”, ujar James. Begitulah keputusan James. Kali ini, ia merasa terbebas dari beban beratnya.Jadi apa yang akan kamu lakukan di hari natal nanti?”, tanyaku kembali. “Oh..saya sudah booking tiket 20 Desember ini, kabur ke Spanyol, dengan teman Muslim saya. Ingin melihat Alhambra dan sejarah peninggalan Islam di Spanyol”, ujarnya.Bagaimana dengan anak-anakmu? “Mereka sama ibunya dan neneknya. Biarkan tahun ini anak-anak sama ibu mereka, merayakan Natal. Nanti jika saya sudah punya rumah sendiri saya ajak mereka pindah kerumahku. And they will follow me…”, ujarnya sambil tertawa lebar seakan yakin kalau anaknya akan mengikuti jejaknya.Demikian cerita si James. Tapi itu nama masa lalu. Kini, ia kerap dipanggil brother Zakariyya. Jumpa Pertama Saya ingat, suatu Ahad, saat pertama kali berjumpa dengannya di sebuah pengajian “StepstoAllah” di Islington, London utara. Jamse saat itu belum Muslim, ia masih mencari-cari dan meyakinkan dirinya. Entah bagaimana saat pengajian usai, ia berbisik kepada Hilaal. “I think now I would like to take shahadah…I like to do it in the mosque, what do you think?”. Dengan serta merta Hilaal menyambutnya. Kamipun terkejut, sekaligus terharu mendengarnya.Langsung, saya panggil ia dengan 'brother' walau James belum resmi Muslim. “Brother, are sure you want to be Muslim? tanyaku, “Well….hmm yess!”, begitu gaya James berbicara dengan santun dan pelan. Sekalian mengetes keyakinannya, saya bertanya agak lebih serius. “Apa kamu merasa yakin? bagaimana media akan mengungkapkan kita sebagai suatu yang sangat jelek dan extreemist jika kamu memilih menjadi seorang Muslim?”. “Apa tak sebaiknya dibatalkan?”, tanyaku."Ya aku mengetahuinya. Mmm saya yakin tentang itu, terutama hari ini, aku kira tentang masalah ini telah aku pikirlan sangat lama. Tak akan menggangguku apapun yang dikatakan media. Sebab aku tidak mempercayai mereka. Dan hari ini aku lebih yakin”, demikian James menambahkan. Ia mengaku, mestinya ia sudah lama bershahadat dan masuk Islam namun ia terlalu banyak pertimbangan. “I am a very slow to decide' ujarnya lagi.James mengumumkan sekaligus mengundang kami lewat email rencana untuk melakukan shahadat. Di suatu hari Sabtu, di musim panas tahun 2007 , tepat ba'da dzuhurdi Masjid Regent Park, London James mengucapkan dua kalimah syahadat disaksikan beberapa teman. James hari itu mengenakan baju kemeja Koko ala Pakistan berwarna putih. Ia nampak tenang. “Assalamualaikum sister, thank you”, sapanya kepadaku. Kami mendekatinya dan mengucapkan selamat kepadanya, “Well Done, congratulation, Mabruk…!” Saya menyaksikan penuh haru dan entahlah, akhirnya kami yang wanita atau sister dapat giliran untuk mengucapkan selamat dan hanya dengan isyarat saja, tidak bersalaman. Usai berfoto, kami ke kantin untuk bertasyakur.”Lets go to cantin to celebrate..”, undangnya. Sejak itu, James berganti nama menjadi Zakariyya. “Yes my namae is Zakariyya with two wai (maksudnya y) ..” Di SMS dia serong menyingkatnya menjadi Zak, atau bro Zak. Kadang lebih sering menyingkatnya menjadi initial Z. Hadiah untuknya dari para sahabat. Ada yang memberi kitab Al-Quran, buku tentang Islam, sajadah dll-nya. Kerlip lampu camera bergantian mengabadikan peristiwa penting ini. Akhirnya kami menikmati minuman dan makanan kecil berupa cheese cake. Ia tak hentinya menyampaikan terima kasih yang tak terhingga, ia merasakan seperti mendapatkan keluarga baru. Minggu depan kami berjumpa lagi dengan Zakariyya dipengajian. Lalu saya tanya bagaimana perasaan dia sejak ia menjadi Muslim. Konon ia merasa bahagia dan sepertinya betul-betul sudah Muslim begitu lama, padahal baru seminggu.
Singkat kata Sebelum mengakhiri pembicaraan dengan saya, ia mengungkap sebuah ayat paling favorit yang sering ia ingat. "Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus , yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis) , Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan- perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS An-Nur:35).
Minggu, 27 Januari 2008
SUHARTOKISASI

“Kehadiran seorang figur dominan dalam situasi kritis dan momen historis yang menentukan,” tulis Lloyd George, “bisa merubah jalannya peristiwa selama bertahun-tahun bahkan beberapa generasi mendatang.”
Dengan kejatuhan atau kematianya, pengaruh pemimpin besar tidak serta-merta sirna. Ada gading yang ia tinggalkan, bernama karisma. Ibarat sumur yang mengalirkan energi (kebaikan atau keburukan), karisma tak pernah habis karena diberikan. Ia boleh tertimbun sementara waktu oleh lumpur gerak sosial atau histeria massa. Tetapi dalam reformasi yang tak kunjung menemukan orde sosial baru, disertai hilangnya keteladanan dan kepercayaan pada janji-janji perubahan, orang-orang mencari juru selamat. Mereka menggali kembali sumur karisma.
Transisi menuju demokrasi merupakan fase tergenting dan frustating di ruang tunggu sejarah. Ketika ”yang lama” mulai pudar, sedang ”yang baru” tak kunjung lahir, masyarakat terombang-ambing dalam limbo: antara tertarik ke orbit nostalgia (merayakan kembali masa lalu) atau meretas visi masa depan (konsolidasi demokrasi).
Dalam kegalauan ini segera berjangkit virus kekecewaan publik dalam bentuk apatisme dan pesimisme. Hal ini menyusul kekacauan dan ketidakpastian jagad politik, lambannya pemulihan ekonomi, ketiadaan kepastian hukum, bentrokan etno-religius, anarkisme massa, manuver avonturir kaum ”ronin”, perpecahan pemimpin politik, berjangkitnya neo-KKN serta melemahnya legitimasi dan efektivitas pemerintahan baru.
Diperlukan kepemimpinan otoritatif untuk memulihkan keyakinan dan kepercayaan publik. Tetapi dalam kasus Indonesia, demokratisasi berkembang memenuhi nubuat sinis dari Thomas Carlyle, ”Democracy, which means despair of finding any heroes to govern you.” Para pelopor reformasi gagal menjadi pahlawan perubahan, karena hasrat kemapanan yang terlampau cepat. Nyaris memenuhi gambaran sumir Hannah Arendt, “Seorang revolusioner (baca: reformer) yang paling radikal segera menjadi konservatif setelah revolusi berakhir.”
Konservatisasi kaum reformis mudah terjerat jejaring status quo, membuat batas antara masa lalu dan masa depan menjadi kabur. Kepercayaan luntur, pahlawan pudar, dan keyakinan pun lenyap. Untuk mencari sandaran, orang-orang kembali berpaling ke sumur karisma. Para pemimpin dengan defisit legitimasi dan reputasi mencoba meraih kecemerlangan dengan berasosiasi dan berempati pada ”pemimpin besar”.
Para elit berebut merengkuh air berkah dari sumur karisma. Tak peduli bahwa sumur itu mengandung racun (toksik) tersendiri, yang dulu ingin mereka bersihkan. Seperti hilang ingatan, semuanya menikmati ”Suhartoksikasi” (toksik Suharto.
Gejala trans ini memperoleh peneguhannya dari liputan media. Mereka dalam defisit pengaruh selalu dalam dahaga pencarian status (status seekers), sedangkan salah satu kekuatan magis dari media adalah menganugerahkan status pada seseorang. Suhartoksikasi Media, membuat politik pemberitaan terpusat pada drama sakitnya sang pemimpin besar. Intensifikasi dan ekstensifikasi terpaan media atas masalah ini membuat para pencari status berlomba menjenguk dan mengomentasi Suharto mengikuti agenda setting yang diciptakan media.
Dalam setting media, fenomena sakitnya Suharto lantas menyediakan arena bagi pertunjukan drama absurd kehidupan. Pesakitan penjadi penggugat, penggugat menjadi pemaaf, yang minta dimaafkan tak sudi memaafkan, yang mencari jalan tengah memilih jalan tak ada ujung. Semuanya melakoni dunia nyata sebagai panggung sandiwara.
Di dalam panggung sandiwara ini, begitu tipis realitas kebaikan yang disimpan di album memorabilia. Begitu banyak ketidakadilan yang dipetieskan di gudang oblivia. Akibatnya, sikap kejiwaan bangsa cenderung meragukan kebenaran, dan merayakan ambiguitas.
Padahal, seperti kata Mary Zurbuchen, ”Negara-negara yang pernah mengalami represi dan kekerasan dalam skala besar akan mengalami kesulitan untuk mengkonsolidasikan penataan pemerintahan baru kecuali mereka mampu untuk mengambil sikap yang jelas dalam menyelesaian masa lalu.
Dalam hal berhubungan dengan masa lalu, Barenboim (ahli rekonsiliasi) mengingatkan, “Certain matters require the generosity of forgetfulness, and others demand the honesty of remembrance.” Ada hal-hal yang perlu kelapangan untuk melupakan, dan ada hal-hal yang perlu kejujuran untuk mengingat.
Apapun penilaian orang terhadap perlaku dan kebijakan Suharto, ia telah memberi andil besar dalam mempengaruhi dan merefleksikan wajah kita sebagai bangsa. Dalam ungkapan bombastis Vatikiotis, “Suharto has done more to shape Indonesian society than any other figures in the country’s history.” Namun perlu segera ditambahkan. Bahwa Suhato pun barangkali telah berbuat lebih dalam mewariskan tindak kekerasan, korupsi, dan antiintelektualisme di banding pemimpin lainnya.
Jejak-jejak kebaikannya tak boleh diruntuhkan dan dilupakan. Harus ada kejujuran untuk menghargainya. Terhadap jejak-jejak keburukannya harus ada keberanian untuk menghapusnya dengan membiarkan kebenaran menyatakan diri.
Setiap lompatan besar dalam politik indonesia selalu tertawan oleh masa lalu. kebiasaan kita untuk melupakan masa lalu dengan mengulanginya, bukan dengan melampauinya, membuat perilaku politik Indonesia tak pernah melampaui fase kekanak-kanakannya (regressive politics). Keburukan masa lalu bukan untuk ditutupi, melainkan perlu diungkap, didamaikan, dan dilampaui!
Selasa, 22 Januari 2008
BeLaJaR MeNciNtai DengaN caRa SempurNa...

Ketika engkau berada di tempat,pda saat yg tepat,itulah kesempatan.
Ketika engkau bertemu dengan seseorang yang membuatmu tertarik,itu bukan pilihan itu kesempatan.
Bertemu dalam suatu peristiwa bukanlah pilihan, itupun kesempatan.
bila engkau memutuskan untuk mencintai orang tersebut,bahkan dengan segala kekurangannya, itu bukan kesempatan,itu adalah pilihan.
Ketika engkau memilih bersama dengan seseorang walau apapun yg terjadi,itu adlh pilihan. Bahkan ketika engkau menyadari bahwa masih banyak orang lain yang lebih menarik,lebih pandai,lebih kaya daripada pasanganmu Dan engkau tetap memilih utk mencintainya itulah pilihan.
Perasaan cinta,simpatik,tertarik,dtng bagai kesempatan padamu. Tetapi cinta sejati yg abadi adalah pilihan. Pilihan yang engkau lakukan Engkau ada di dunia bukan untuk mencari seseorang yang sempurna utk dicintai, Tetapi untuk belajar mencintai orang YG TIDAK SEMPURNA DGN CARA SEMPURNA..
Kamis, 17 Januari 2008
tukang Bakso di halte itu
Halte Volvo di Jalan Raya Pasar Minggu, Jakarta Selatan, semakin padat. Hujan deras yang tiba-tiba turun membuat sejumlah pengendara sepeda motor berhenti untuk berteduh. Pejalan kaki pun tak mau ketinggalan. Demi menghindari hujan, mereka berlarian menujualte ini. Seorang pemuda tampak terpeleset saat berlari menuju halte ini.Tak sampai lima menit, halte dipenuhi tak kurang dari 30 orang. Halte yang sebelumnya sepi, kini ramai oleh gemeretak rahang orang menahan dingin. Desahan menggigil juga meramaikan suasana. Asap rokok tampak begitu tebal di halte ini. Beberapa wanita terpaksa menutup hidung menghindari sambaran tar dan nikotin itu.Tak berapa lama, sebuah gerobak bakso merapat ke pinggir trotoar halte. Kemudian, sang penjual ikut berteduh. Halte pun makin padat. "Mas, baksonya dua. Yang satu tidak pakai mi," kata seorang wanita pada si penjual bakso.Masih tampak kedinginan, dengan baju sedikit basah, Kusnadi, tukang bakso itu, segera menghampiri gerobaknya dan menyiapkan pesanan sang wanita.Belum selesai membuat pesanan pertama, dua pemuda juga memesan bakso. "Bakso saya tidak pakai seledri ya, Mas," kata pemuda itu.Tak lama, tukang bakso berusia 32 tahun itu sibuk membagikan empat mangkuk bakso pada pemesannya di tengah kepadatan halte. Kepulan asap kuah bakso, ternyata mengundang peneduh lain memesan bakso Kusnadi. Pria asal Bojonegoro, Jawa Timur ini pun membatalkan niatnya berteduh.Tak lagi perduli dengan baju basah dan udara dingin, Kusnadi sigap melayani pembeli seperti halnya saat cuaca cerah. Sesekali, ia tampak sedikit tergelincir licinnya lantai halte..Sekitar pukul 23.50 WIB, hujan mulai reda. Peneduh pun mulai berkurang. Tinggal enam orang yang masih berteduh. Kusnadi pun sibuk membereskan mangkuk kotor. Ketika sedang mencuci mangkuk, seorang ibu yang sejak tadi duduk di sudut halte, menghampiri Kusnadi. "Mas, saya boleh minta kuah baksonya saja?" kata si ibu.Kusnadi mengangkat wajahnya, menatap sang ibu. "Iya, Bu, Nanti saya buatkan. Sebentar ya Bu, saya cuci mangkuk dulu," kata Kusnadi pada wanita itu.Wanita itu pun kembali ke sudut halte, di mana juga tampak seorang anak lelaki berusia sekitar sepuluh tahun. Di pundak kanannya, tersampir tas punggung biru tua yang sudah lusuh. Celana pendek dan kaos yang dipakainya pun, tak lebih baik dari tasnya. Warna sandal jepit yang dipakai pun tak seragam kiri dan kanan.Wanita berusia empat puluhan tahun ini, duduk di sebelah si bocah dan merangkulnya. Saparti dan Wawan, nama ibu dan anak ini tampak begitu lelah.. Sesekali, terdengar gemeretak gigi beradu dari si anak, tanda ia menahan dinginnya udara. Tak ada kata-kata yang keluar dari mulut kedua orang ini."Ini Bu, baksonya," kata Kusnadi sambil menyodorkan dua mangkuk bakso lengkap. Bukan cuma kuah seperti pesananan Saparti. "Mas, kok pakai bakso? Saya kan cuma minta kuah?" kata Saparti dengan tatapan bingung. "Tenang saja, Bu. Itu gratis kok. Ibu tidak usah bayar," sahut Kusnadi.Tanpa menunggu jawaban Saparti, Kusnadi kembali ke gerobaknya, membuatkan pesanan untuk sepasang muda-mudi yang baru bergabung di halte ini.Sementara itu, Saparti dan Wawan menyantap bakso itu dengan nikmatnya. Sesekali, Saparti mengarahkan pandangannya pada Kusnadi. Usai membuatkan pesanan muda-mudi tadi, Kusnadi membereskan dagangannya. "Sudah, Mas. Jadi berapa?" kata Saparti pada Kusnadi. "Sudah, Bu. Tidak apa-apa. Insya Allah, saya ikhlas. Masa saya tega cuma memberi kuah, padahal dagangan saya sedang laris. Hitung-hitung bagi-bagi rezeki, Bu," ujar Kusnadi tersenyum. Saparti tak bisa menolak kebaikan Kusnadi. Berkali-kali, Saparti mengucapkan terima kasih, sebelum akhirnya meninggakan halte ini. "Kalau mau beramal harus menunggu sampai jadi orang kaya, kapan saya bisa beramal?" tutur Kusnadi sambil tertawa kecil.
Senin, 14 Januari 2008
struggle.....

Never cry for any relation in life
Because for the one whom you cry
doesn't deserveyour tears
and the one who deserve
will never let you cry...
Treat everyone with politeness
even those who are rude to you
Not because they are not nice........
never search your happiness
in others
which will make you
feel alone,
Rather search it in your self
you will feel happy
even if you are left alone...
always have A positive attitude in life.
there is somethimg positive in evry person.
even a stopped watch is right
twice a day..
Happiness always looks small
when we hold it in our hands.
But when we learn to share it
we realize How big and Precious it is...!
Langganan:
Entri (Atom)